Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,
Kali ini aku akan mencoba menulis sebuah artikel (?), tentang Cinta.
Tulisan ini hanya sebagai acuan diri Saya, seberapa besar kemampuan Saya untuk menulis dan merangkai kata demi kata.
Sebelum itu, Saya ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama Saya Egita Indrianna, saat ini Saya masih berstatus pelajar di SMK Negeri 1 kota Bekasi. Saya hanyalah seorang perempuan 17 tahun yang sedang beranjak dewasa tanpa Saya sadari dan sedang dalam proses pendewasaan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Sebagai seorang remaja, Aku tak memungkiri bahwa Aku pernah mengalami jatuh cinta, Falling in Love. Cerita ini berawal dari pandanganku terhadap seorang laki-laki yang tak menarik, aneh, dan... misterius. Ia terlalu cuek dan dingin. Tetapi beberapa hari setelah itu Aku mengetahui bahwa ia memiliki kekasih, atau biasa disebut pacar.
Aneh memang, laki-laki seperti dia memiliki kekasih? Haha, kutertawa dalam hati. Sampai tiba saatnya untuk pembagian tempat duduk. Aku, yang pada saat pembagian tempat duduk itu sedang tidak berada di kelas karena ada urusan organisasi, akhirnya tetap mendapat teman sebangku. Sebut saja namanya Ratih Dewi, ia seorang perempuan yang tampak polos dan lugu.
"Boleh gak aku duduk disini?" tanyaku kepadanya
"Boleh aja" jawabnya dengan pelan.
Teman akrabku yang bernama Aprilia Rinjani ternyata sudah duduk dengan orang lain.
Tak berapa lama berselang, wali kelas baruku datang. Ia pun memperkenalkan dirinya, Yeni Widiasari nama panggilan beliau adalah bu Yeni. Jadi selama setahun kedepan ia akan menjadi wali kelas 8.8. Kebetulan beliau juga guru mata pelajaran tata busana.
"Jadi hari ini, kita akan memilih ketua kelas untuk setahun kedepan."
Setelah pemilihan ketua kelas, terpilihlah Yadi Pratama sebagai ketua kelas, Aku dan Rinjani sebagai sekertaris dan Karin Oktaviani sebagai bendahara. Setelah itu ada pengaturan tempat dudukyang akhirnya mengharuskan Aku untuk duduk dengan pria aneh yang sebelumnya Aku ceritakan.
Setelah sehari duduk sebangku dengannya, Aku baru mengetahui bahwa namanya adalah Dhika Pratama Putra. Dhika? bagus juga namanya.
Keesokan harinya posisi tempat duduk kembali ditukar dan Aku duduk dengan Ratih, dengan Dhika duduk didepanku.
Semakin lama, Aku semakin mengetahui sisi lain dari dirinya, bahwa Dhika itu pintar, cerdas, mandiri, rajin, dan memiliki sisi menarik yang tanpa ku sadari membuatku tertarik. Tetapi, laki-laki itu pribadi yang cuek, dingin. Seperti memiliki dinding pembatas yang cukup tebal untuk membentengi privasinya. Bahkan dulu Aku pernah menjulukinya sebagai Gunung Es karena sikapnya yang terlalu dingin itu.
Bebarapa bulan setelahnya, ia putus dengan kekasihnya, Sara Widiawati. Saat itu Aku sadar bahwa Aku tertarik dan aku menyukainya. Tetapi semua itu hanya bisa kuungkapkan lewat kata, tertulis dalam buku diari, kucurahkan semua tentangnya dalam diari itu. Tentang pengharapan dan perasaan yang kurasakan. Sampai hampir setahun, Aku lumayan dekat dengannya, dan ia juga pernah membaca diariku, ia tahu bahwa aku menyukainya. Tetapi pertemanan kami tetap berjalan seperti hubungan antar teman biasa.
Sampai akhirnya, Aku mengetahui sebuah fakta bahwa, Dhika menyukai Ratih. Aku kaget, Aku bingung, Aku kecewa, Aku hampa. Kalian tahu? Rasa yang kusimpan, yang ku jaga ternyata tak terbalas. Cinta itu sia-sia. Sungguh. Aku menyesal, Aku kesal, Aku kecewa. Sangat.
Bagaimana tidak? temanku, teman sebangkuku, teman seperjuanganku, Disukai oleh orang yang Aku sukai.Aku ingin membencinya, tapi apalah daya ku? Allah ingin menjagaku, Allah ingin membatasi diriku, Allah menegurku dari sebuah perasaan yang salah. Perasaan yang seharusnya belum pantas ku rasakan.
Ia mengujiku, agar Aku bisa mengikhlaskan makhluk-Nya untuk makhluk-Nya yang lain. Allah hanya memberi tahu kepadaku, bagaimana rasanya menyukai, mencintai seorang makhluk ciptaannya itu. Allah ingin Aku menjaga cinta itu menjadi cinta suci, bukan cinta karena nafsu. Karena cinta suci itu hanya dirasakan sampai pada akhirnya dihalalkan, Bila akhirnya Allah mengijinkan dan menjodohkan seorang hamba-Nya kepadaku, dan Aku hanya harus menunggu dan menerimanya dengan ikhlas, Karena kita harus percaya bahwa skenario Allah itu yang terbaik.
Tulang rusuk itu tidak akan tertukar dengan pasangan tulang rusuk yang lain. Percayalah, bahwa jodoh itu cerminan diri dan tugas ku sekarang hanya memantaskan diri, untuk calon imamku nanti. Cinta itu, rasa itu, biarlah berlalu secara perlahan, terhapus oleh rindu yang lama tak tertahankan. Berganti akan rindu pada nikmat rahmat dan hidayah-Nya.
Dhika, cinta pertama yang sangat memberi makna, memberi warna, dan banyak mengajarkan Aku tentang sebuah rasa. Rasa yang mungkin tak berbalas, tetapi mungkin akan terbalas jka suatu hari di masa depan kita dipertemukan dan disatukan dalam suatu keadaan. Mungkin disaat kita sudah siap akan semuanya.
Atau mungkin sebaliknya? Saat pertemuan itu, Kau dan Aku sudah tidak bisa lagi bersatu, karena kita sudah disatukan dengan pasangan kita masing-masing. Aku hanya berterima kasih karena telah diberi kesempatan berbagi kasih walau berakhir lirih.
Semoga cinta dalam diam ini menjadi pelajaran berharga bahwa rasa cinta juga perlu dipendam. Karena jika tidak, kita abisa jatuh terlalu dalam karena salah dalam mengartikan dan menempatkannya. Demikianlah artikel pendek Saya, semoga bermanfaat bagi yang membacanya,
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar